Cara Ampuh Mengatasi Learning Loss telah terjadi pada peserta didik di era pandemi ini yang sudah menjalani pembelajaran jarak jauh selama kurang lebih 2 tahun sejak tahun 2019 akhir.

Pembelajaran jarak jauh menjadi alternatif pendidikan yang dipilih untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 serta untuk menjaga keselamatan warga sekolah.

Tidak dipungkiri bahwa kasus penyebaran virus ini tergolong cukup cepat dan berbahaya, khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Perubahan yang diakibatkan oleh penyebaran virus ini telah berdampak pada berbagai lini kehidupan, baik di dunia pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Dunia pendidikan yang awalnya sangat didominasi oleh pertemuan dan kegiatan fisik antar peserta didik menjadi sangat terbatas setelah adanya pandemi, termasuk di dalamnya kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi.

Keberadaan ekstrakulikuler dan organisasi selain menambah keterampilan siswa juga dapat memberikan efek rekreasi yang menyenangkan bagi siswa yang mengikuti.

Kegiatan yang bersifat rekreasional ini memiliki dampak yang cukup bagus bagi siswa, siswa menjadi tidak bosan dengan kegiatan sekolah yang tidak hanya terdiri atas kegiatan pembelajaran saja.

Namun, kegiatan tersebut harus terhenti dikarenakan adanya pandemi, tidak hanya kegiatan yang bersifat menyenangkan, akan tetapi juga kegiatan wajib yang harus dibatasi pelaksanaannya.

Kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi hampir sepenuhnya diberhentikan selama pandemi, sedangkan proses pembelajaran tetap dilakukan akan tetapi secara daring.

Tentunya hal tersebut cukup berdampak bagi siswa, salah satu dampak yang sangat terasa yaitu kehilangan pembelajaran atau learning loss.

Banyak siswa merasakan waktu untuk belajar yang lebih sedikit dibandingkan ketika pembelajaran tatap muka. Hal tersebut dikarenakan banyak siswa yang mempersepsikan ketika tidak berangkat ke sekolah sama dengan libur.

Perubahan persepsi tersebut menjadikan siswa kurang bersemangat dalam belajar ketika di rumah, yang berdampak pada berkurangnya waktu belajar siswa. Bahkan terdapat siswa yang mengaku bahwa ia tidak belajar sama sekali ketika pandemi

Baca Juga:  Perbedaan antara bunga dan bagi hasil

Beberapa siswa lain menyatakan bahwa adanya kesulitan dalam mengakses materi pembelajaran, sehingga membuat siswa kebingungan terkait apa yang perlu dipelajari.

Banyak hal yang melatarbelakangi kesulitan tersebut, mulai dari fasilitas yang kurang memadai, akses internet yang sulit, hingga keberadaan bahan ajar yang masih langka pada saat itu.

Selain itu, bentuk learning loss yang muncul adalah kesulitan siswa dalam mengerjakan penugasan yang diberikan oleh guru.

Sehingga, beberapa siswa tidak mengerjakan penugasan tersebut, atau dikerjakan oleh orang tua siswa, sehingga nilai yang diberikan untuk penugasan tersebut adalah nilai untuk orang tua siswa, bukan untuk siswa.

Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi kehilangan pembelajaran atau learning loss ini ? Pemerintah telah menyiapkan kurikulum merdeka sebagai upaya untuk menyikapi learning loss, namun disamping kurikulum tersebut, berikut cara mengurangi learning loss secara mandiri :

1. Identifikasi kebutuhan

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan identifikasi kebutuhan. Identifikasi kebutuhan yaitu mencari tahu hal-hal mendasar esensial yang dibutuhkan oleh siswa.

Contohnya : untuk belajar membaca, siswa perlu memahami bentuk huruf terlebih dahulu, apabila belum memahami bentuk huruf, maka siswa akan kesulitan untuk memahami kode-kode yang muncul dalam buku sehingga terbentuk kata-kata, kalimat, paragraf, alenia, dan menjadi informasi.

Identifikasi dapat dilakukan oleh guru, orang tua, siswa, atau kolaborasi ketiganya untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Namun, apabila diperlukan maka dapat meminta bantuan dari profesional dengan mengikuti serangkaian asesmen pendidikan.

Jangan lupa untuk menargetkan beberapa aspek yang tertinggal selama pandemi untuk kemudian dipelajari secara lebih efektif.

2. Identifikasi gaya belajar

Setelah mengetahui kebutuhan apa yang perlu dipelajari terlebih dahulu, maka dapat mulai mengidentifikasi gaya belajar yang sesuai dengan siswa.

Diantara gaya belajar visual, auditory, kinestetik, kemungkinan mana kah yang mendominasi gaya belajar siswa tersebut ?

Gaya belajar dapat diketahui secara manual dengan menanyakan kepada anak cara belajar seperti apa yang lebih disukainya.

Baca Juga:  Cara Mengembalikan File yang Terhapus di Android

Anak dengan dominasi gaya belajar visual akan sangat menyukai hal-hal yang melibatkan indera penglihatan, seperti membaca, melihat gambar, menonton video, dan lain sebagainya.

Anak dengan dominasi gaya belajar auditory akan sangat menyukai hal-hal yang melibatkan indera pendengaran, seperti mendengarkan penjelasan, dibantu dengan musik, dan lain sebagainya.

Sedangkan anak dengan dominasi gaya belajar kinestetik akan lebih nyaman belajar dengan melibatkan gerakan atau aktivitas, seperti menghafal dengan berjalan, atau kegiatan yang bersifat praktikum.

Namun, kita juga dapat mengkombinasikan ketiga gaya belajar tersebut dengan menciptakan alternatif pembelajaran yang menyenangkan.

3. Manajemen aktivitas

Praktiknya memang tidaklah mudah mengaplikasikan serangkaian perencanaan dalam belajar, terdapat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, sehingga diperlukan manajemen aktivias untuk membantu melakukan kegiatan.

Manajemen aktivitas tidak hanya merencanakan kegiatan, namun juga bagaimana mengendalikan diri untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan.

Jam belajar dapat disesuaikan dengan berbagai macam kegiatan atau kepentingan yang bersifat wajib. Namun dapat disepakati untuk memberikan jam belajar yang singkat (kurang lebih 1-2 jam) namun dilakukan beberapa kali dalam satu hari.

Misal : jam 07.00 – 09.00, kemudian istirahat, lalu dilanjutkan jam 10.00-12.00 (dan seterusnya agar siswa memiliki waktu untuk mencerna informasi yang diberikan)

Manajemen aktivitas ini tidak hanya merencanakan kegiatan yang bersifat wajib seperti belajar, namun juga kegiatan yang bersifat rekreasional, sehingga kegiatan yang dijalani menjadi lebih menyenangkan.

Individu dapat membuat perencanaan yang matang dalam bentuk tulisan dengan berbagai hiasan menarik sesuai dengan kreatifitas.

Setelah perencanaan tersebut tersusun dengan baik, maka PR nya adalah bagaimana cara mengendalikan diri agar dapat melaksanakan perencanaan tersebut dengan baik.

4. Sistem reward dan punishment

Pelaksanaan perencanaan tersebut tentunya bukanlah hal yang mudah, dalam praktiknya akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh siswa.

Baca Juga:  Pengertian dan Dampak Pemanasan Global

Oleh karena itu, untuk menunjang terlaksananya kegiatan yang sesuai dengan perencanaan, maka siswa dapat memberlakukan sistem reward dan punishmen.

Reward atau penghargaan dapat diberikan dalam beberapa kondisi, misalkan apabila berhasil sesuai perencanaan selama seminggu, atau berhasil mendapatkan nilai di atas 80 dan berbagai kondisi lain yang menuntut usaha dari siswa tersebut.

Pemberian reward dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti jajanan ringan kesukaan, tambahan waktu bermain game, dan lain sebagainya.

Sedangkan punishment atau hukuman dapat diberikan dalam beberapa kondisi pula, misalkan terlambat bangun tidur, lupa mengerjakan PR, dan berbagai kondisi lain yang berdampak negatif.

Punishment diberikan dengan syarat tidak menyakiti siswa dan mendukung perkembangan siswa.

5. Melibatkan Orang Terdekat

Apabila mengalami berbagai macam kesulitan dalam praktiknya, maka tidak ada salahnya untuk melibatkan orang terdekat.

Orang tua atau saudara dapat dilibatkan dalam beberapa agenda, misalkan minta tolong orang tua untuk dibangunkan lebih pagi, atau mengajak saudara turut berdiskusi dalam beberapa kegiatan.

6. Evaluasi

Setelah itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap apa yang telah diusakan, evaluasi ini dapat dilakukan dalam berbagai kurun waktu, baik bulanan, semesteran, maupun tahunan.

Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah program yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar atau tidak. Kemudian, hambatan apa saja yang dialami, serta berbagai kondisi lain untuk menyusun perencanaan yang lebih baik kedepannya.

Cara tersebut di atas dapat dilakukan secara mandiri, baik ketika pembelajaran daring maupun tatap muka untuk menghadapi kehilangan pembelajaran siswa. Namun cara tersebut bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan, masih terdapat berbagai macam cara lain yang bisa diupayakan.

Guna menambah pengetahuan pendidik, maka pendidik dapat membaca berbagai literasi, serta dapat mengikuti berbagai pelatihan, salah satunya DIKLAT 35JP “Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja Pada Kurikulum Merdeka. Pelaksanaan 5-8 Maret 2022. DAFTAR SEKARANG!

Narahubung:
http://wa.me/6285161610200 (Lid)

https://naikpangkat.com/peran-teknologi-dalam-dunia-pendidikan/